Rabu, 25 Agustus 2010

WAISAI, DISIAPKAN JADI IBUKOTA PROVINSI



“Waisai ini memang kita siapkan jadi ibukota provinsi. Jadi kita bangun berbagai infrastruktur dasar serta sarana dan prasarana umum”

Rencana pembentukan provinsi Raja Ampat Raya bukan hanya sekedar wacana. Selain adanya pemekaran kampung dan distrik, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dibawah kepemimpinan Marinda juga telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk merealiasikan rencana tersebut. Diantaranya adalah melakukan pemetaan wilayah bagi pembentukan kabupaten baru serta membidik lokasi tertentu untuk dijadikan ibukota kabupaten pemekaran.

“Saya sudah membentuk tim melakukan survey awal bagi pemekaran kabupaten, dengan survey di beberapa lokasi lokasi yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai ibukota kabupaten pemekaran. “ ujar Wanma saat ditemui di kediamannya belum lama ini.

Niat dan ketulusan Marinda memang diukur dari komitmennya membangun Raja Ampat. Waisai sebagai barometer untuk menguji semua itu. Bukan saja Waisai, Marinda pun membangun secara holistic dan integral, dimana pembangunan itu merata di semua kampung. Misalnya pemerataan dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat Raja Ampat. Saat ini semua kampong telah memiliki gedung sekolah dasar, ditingkat distrik terdapat SLTP dan SMA. Sector kesehatan pun demikian.

“Sedia payung sebelum hujan itu penting. Dalam konteks ini, artinya bahwa mempersiapkan wilayah dengan berbagai pembangunan riil itu penting. Sebab kalau ini kita sudah siap, masyarakat siap, maka pemekaran kabupaten dan provinsi itu sebagai efek lanjutannya,” ujar Wanma.

Keseriusan Wanma, membawa Raja Ampat ke Provinsi dapat kita lihat kerja kerasnya membangun Waisai, sebagai ibukota Kabupaten Raja Ampat. Waisai, yang dulunya hanya hutan belukar, ia sulap menjadi sebuah kota yang representative. ketika Wanma ditunjuk sebagai penjabat bupati. Kala itu ia dipercayakan membangun Raja Ampat hanya dengan bermodal dana Rp. 2 Miliar. Tetapi hasilnya luar biasa. Ia mempersiapkan infrastruktur pemerintah, membuka hutan, menutupi rawa-rawa untuk pembangunan berbagai infratruktur dasar bagi pelayanan publik. Tak pelak, ibukota yang awalnya hanya dihuni 20 kepala keluarga, kini kurang 8.000 jiwa mendiami Kota Waisai.

“Waisai ini memang kita siapkan jadi ibukota provinsi. Jadi kita bangun berbagai infrastruktur dasar serta sarana dan prasarana umum,” ujar Wanma.

Waisai memang berbeda saat ini, jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Secara infrastruktur, nampak berbagai bangunan, baik gedung pemerintahan, perumahan masyarakat, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Jalan lebar menghiasi jatung kota tersebut. Sementara pantai Waisai, menjadi pusat wisata dan rekreasi yang mempesona.

Kamis, 17 Juni 2010

PESONA WISATA RAJA AMPAT





Ada Homestay di Kampung Wisata

Wisatawan yang ingin berwisata di Raja Ampat saat ini tidak perlu ragu soal akomodasi. Di tiga kampung wisata dari lima kampung wisata yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, kini telah memiliki homestay/ penginapan yang sangat representatif bagi wisatawan.

Di Saudarek misalnya, sebuah homestay yang modis, indah berdiri kokoh ditepi pantai berpasir putih. Dengan pintu menghadapkan ke laut, tamu/wisatawan bisa menikmat indanya panorama terumbu karang dengan berbagai jenis ikan yang bermain di kulit air. Sensasi alam nan indah tentunya memberi pesona baru bagi setia wisatawan. Interiornya pun menarik. Terdapat dua kamar tidur masing-masing memiliki tempat tidur dan dilengkapi dengan spring bed. Tampak seperti seperti hotel berbintang.

Di bagian belakang homestay yang beratap daun rumbai ini terdapat kamar mandi dan toilet yang bersih. Sekitar 30 meter di belakang kamar terdapat sebuah gudang tempatnya penyimpanan diesel bagi penerangan.

“Kendatipun dibangun dengan bahan lokal, tetapi homestay tersebut layak bungalow-bungalow umumnya. Pengunjung pasti nyaman untuk berwisata,” jekas Nico Ramandey Kepala Bidaya Obyek, Daya Tarik Sarana dan Jasa Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat.
Nico Ramadey menjelaskan homestay tersebut dikelola oleh masyarakat yang dikoordinir oleh kepala kampung. Sedangkan tim pengelola homestay tersebut adalah pemuda dari kampung tersebut yang telah dilatih oleh Dinas Kebudayaan dan pariwisata Raja Ampat.

“Kita (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat, red) telah melatih para pemuda dengan berbagai ketrampilan khusus seperti bahasa inggris dan pelatihan selam. Sehingga kalau ada tamu asing mereka sudah siap berkomunikasi, demikian jika ada tamu yang ingin diving, maka pemuda yang sudah mengikuti pelatihan selam bisa menjadi guide dive,” ujar Nico.

Pengelolaan homestay diserahkan kepada masyarakat, kata Niko, bertujuan bisnis pariwisata Kabupaten Raja Ampat tidak hanya dikuasai investor tapi masyarakat yang daerahnya memiliki potensi wisata terlibat secara aktif dalam bisnis pariwisata. “Dari sana mereka bisa makan dan membiayai kehidupannya dari sana,” kata Niko Ramadey.

Tiga kampung wisata yang telah memiliki homestay antara lain Kampung Wisata Sawundarek, Arborek dan Yenwapnor. Biaya pembangunan ketiga homestay tersebut, kata Ramadey, dibiayai oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Raja Ampat, sedangkan pembangunan homestay di dua Kampung Wisata lainnya Yenbuba dan Sawingray dibiayai oleh dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (pusat). “Diharapkan tahun ini semua kampung wisata telah memiliki homestay,” jelas.

Rabu, 16 Juni 2010

Wacana Pembentukan Provinsi Raja Ampat Raya

Drs. Marcus Wanma, M.Si
Siapkan Langkah Menuju Provinsi Raja Ampat Raya

“Saya bukan saja memikirkan pemekaran kabupaten, justru saya memikirkan hal yang lebih jauh yakni bagaimana daerah ini menjadi provinsi sendiri”

Bupati Drs. Marcus Wanma, M.Si memiliki visi luhur dan mulia bagi pembangunan dan pelayanan pemerintahan di Kabupaten Raja Ampat. Luasnya wilayah Raja Ampat yang dibarengi tantangan geografis yang cukup tinggi tak menyurutkan niat putra terbaik Raja Ampat ini untuk terus berbuat dan memikirkan yang terbaik bagi masyarakat Raja Ampat. Semua tenaga dan pikirannya telah ia pertaruhkan bagi pelayanan masyarakat. Satu lagi yang belum terealiasasi dan masih diperjuangkan adalah menjadikan Raja Ampat sebagai sebuah daerah tingkat I atau provinsi.

“Saya memimpikan sebuah masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Raja Ampat. Jalannya hanya melalui pemekaran kampung, distrik dan akhirnya kita mekarkan kabupaten baru, bahkan kalau tak ada halangan kita harus membentuk provinsi sendiri,” ujar Wanma usai membuka selubung papan nama tujuh distrik baru yang dimekarkan di Waisai belum lama ini.

Dalam rangka itu, kata Wanma, beberapa langkah strategis dilakukan antara lain melakukan peningkatan status dusun menjadi kampung, kampung dimekarkan, pembentukan kelurahan dan pemekaran distrik. Usai pemekaran distrik maka tugas selanjutnya adalah mempersiapkan pembentukan kabupaten dan provinsi. “Bila distrik sudah memungkin maka tugas kita selanjutnya adalah mempersiapkan pemekaran kabupaten dan bila berkenan serta atas izin Tuhan maka kita akan membentuk provisni. Itu impian saya kedepan,” kisah Wanma.

“Pemekaran adalah jembatan emas untuk membangun dan menghantar masyarakat Raja Ampat pada keadaan yang lebih baik,” tambah Wanma.

Sampai dengan saat ini secara pemerintahan, Kabupaten Raja Ampat telah memiliki 24 distrik dan 106 kampung, empat kelurahan. Dari sisi data, maka ini sangat memungkinkan untuk membentuk beberapa kabupaten baru. Wanma mengakui pemekaran kampung dan distrik pintu masuk untuk pembentukan provinsi Raja Ampat Raya.

“Kita siapkan semuanya pada periode pertama kepemimpinan saya dengan saudara Inda Arfan, bila Rakyat masih percaya kepada kami maka usaha kami kedepan tinggal melakukan pembentukan kabupaten dan provinsi. Jadi saya bukan saja memikirkan pemekaran kabupaten, justru saya memikirkan hal lebih jauh bagi seluruh masyarakat Raja Ampat,” ungkap Wanma.

Untuk itu, bertepatan dengan peringatan HUT ke-7 Kabupaten Raja Ampat beberapa waktu yang lalu, Drs. Marcus Wanma, M.Si membuka selubung papan nama untuk tujuh 7 Distrik baru di wilayah pemerintahan yang dipimpinnya. Dengan demikian, hingga saat ini Kabupaten Raja Ampat memiliki 24 distrik dan 106 kampung, empat kelurahan.

“Kita juga sudah siapkan empat titik untuk dijadikan sebagai ibukota kabupaten yang akan dimekarkan. Satu di Misool, satu di Bantanta-Salawati, satu di Waigeo Barat dan satunya di Waigeo Utara. Tim telah melakukan survey dan kita siapkan infratruktur dasar pemerintahan, pendidikan dan kesehatan. Titik itu adalah bakal calon, ibukota dari kabupaten yang rencananya kita mekarkan,”tambah Wanma.

Adapun tujuh distrik yang dimekarkan tersebut antara lain Distrik Teluk Mayalibit, dimekarkan menjadi Distrik Teluk Mayalibit dan Distrik Tiplol Mayalibit. Distrik Salawati Utara, dimekarkan menjadi Distrik Salawati Utara dan Distrik Salawati Tengah. Distrik Selat Sagawin, berubah nama menjadi Distrik Batanta Utara & dimekarkan menjadi Distrik Batanta Utara, Distrik Batanta Selatan dan Distrik Salawati Barat. Distrik Waigeo Utara dimekarkan menjadi Distrik Waigeo Utara dan Distrik Supnin. Distrik Waigeo Selatan dimekarkan menjadi Distrik Waigeo Selatan dan Distrik Waisai Kota. Distrik Kepulauan Ayau dimekarkan menjadi Distrik Kepulauan Ayau & Distrik Kepulauan Ayau Utara.

Selain pemekaran distrik, juga dilakukan pemekaran Kampung pada kesempatan yang sama, bupati Raja Ampat yang disaksikan oleh seluruh undangan meresmikan pemekaran 14 kampung baru dan 4 kelurahan yang diikuti peresmian kantor distrik,kampong dan lurah yakni, Kantor Kepala Kampung Urai Distrik Supnin, Kantor Lurah Warmasen Distrik Waisai Kota,& Kantor Distrik Salawati Barat.

Langkah yang diambil oleh pak wanma memang tepat. Sebab ia mempersiapkan kabupaten Raja Ampat secara matang sebelum membentuk kabupaten baru. “Saya rasa apa yang dilakukan Pak Wanma selama lima tahun kepemimpinannya sangat tepat. Sebab untuk pemekaran kabupaten baru, sekurang-kurang kabupaten induk telah melewati usia tujuh tahun. Itu aturannya. Masyarakat harus pahami ini,” ujar Arnold Bula, Anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat.

Kabupaten Raja Ampat Buka Kantor Informasi Wisata di Denpasar-Bali


Langkah Drs. Marcus Wanma, M.Si mengembangkan sektor pariwisata di Kabupaten Raja Ampat patut diacungi jempol. Berbabai cara, langkah dan pendekatan dalam memperkenalkan dan mempomosikan potensi wisata Kabupaten Raja Ampat.

Salah satu hal yang patut diapresiasi adalah upaya Wanma dan jajarannya membuka kantor perwakilan Raja Ampat di Denpasar, Provinsi Bali. Kantor perwakilan itu berisi informasi potensi wisata di Kabupaten Raja Ampat.

Ketika meresmikan kantor yang beralamat di Jl. Bay Pass Ngurai Ray, Kota Denpasar ini, Marcus Wanma dalam sambutannya mengatakan sector pariwisata merupakan salah satu sektor penggerak utama perekonomian bangsa-bangsa dunia saat ini, disamping sector telekomunikasi dan teknologi informasi.

“Kabupaten Raja Ampat sebagai bagian dari wilayah Indonesia memiliki potensi dan peluang untuk menjadi destinasi pariwisata utama dalam peta kepariwisataan dunia. Peneliti-peneliti dunia mengakui kawasan Raja Ampat merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini. Juga ditemukan berbagai panorama alam yang indah yang menghiasi gugusan kepulauan Raja Ampat. Oleh karena itu, maka sejak menjadi daerah otonom, pemda Raja Ampat, kata Wanma, menempatkan sector pariwisata sebagai salah sector unggulan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, menekan kemiskinan dan penggangguran,” kata Wanma.

“Berbagai upaya dilakukan pemerintah daerah dalam memperkenalkan potensi pariwisata di Kabupaten Raja Ampat. Promosi ke dalam dan keluar negeri terus dilakukan untuk memperkenalkan Raja Ampat sebagai coral triangle ke pentas dunia. Festival Bahari secara regular terus kami lakaukan,” lanjut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo, S.Pi, M.Si saat menyampaikan laporannya.

Untuk itu, lanjut Wanma, pembukaan Kantor Pusat Informasi Wisata Raja Ampat di Kota Denpasar merupakan bagian dari upaya memperkenalkan Raja Ampat dengan segala potensi pariwisatanya ke mata dunia. Bahwa kabupaten yang jauh terpencil di pendalaman Papua menyimpan mujizat keindahan.

“Pulau Bali merupakan salah satu pintu masuk utama para wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia,” papar Wanma.

Sebagai pintu masuk, terang Wanma, pembukaan kantor informasi wisata ini sangat strategis untuk menyajikan informasi awal tentang potensi wisata seperti obyek wisata, kerajinan masyarakat sampai pada pengenalan potensi daerah kepada investor yang mau menanamkan modalnya di Raja Ampat serta mempermudah pengurusan dokumen-dokumen perjalanan bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Raja Ampat. Ia berharap dengan adanya kantor ini maka jendala informasi tentang Raja Ampat, yang terletak di ujung barat Pulau Papua ini semakin terbuka, dan semakin banyak wisatawan yang melihat, mengenal dan mengunjungi Raja Ampat

Sementara itu, Walikota Denpasar dalam sambutannya sangat menyambut baik upaya pemda Raja Ampat pembukaan kantor pusat infosmasi wisata Raja Ampat tersebut. Dikatakannya, pembukaan kantor tersebut sebagai wujud dari kerja sama yang sinergis dalam mengembangkan sector pariwisata di tanah air. Ia berharap dengan pembukaan kantor informasi wisata tersebut semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat.

Wacana Pembentukan Provinsi Raja Ampat Raya

Drs. Marcus Wanma, M.Si
Raja Ampat Menuju Provinsi

“Saya bukan saja memikirkan pemekaran kabupaten, justru saya memikir hal yang lebih jauh yakni bagaimana daerah ini menjadi provinsi sendiri”

Bupati Drs. Marcus Wanma, M.Si memiliki visi luhur dan mulia bagi pembangunan dan pelayanan pemerintahan di Kabupaten Raja Ampat. Luasnya wilayah Raja Ampat yang dibarengi tantangan geografis yang cukup tinggi tak menyurutkan niat putra terbaik Raja Ampat ini untuk terus berbuat dan memikirkan yang terbaik bagi masyarakat Raja Ampat. Semua tenaga dan pikirannya telah ia pertaruhkan bagi pelayanan masyarakat. Satu lagi yang belum terealiasasi dan masih diperjuangkan adalah menjadikan Raja Ampat sebagai sebuah daerah tingkat I atau provinsi.

“Saya memimpikan sebuah masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Raja Ampat. Jalannya hanya melalui pemekaran kampong, distrik dan akhirnya kita mekarkan kabupaten baru, bahkan kalau tak ada halangan kita harus membentuk provinsi sendiri,” ujar Wanma usai membuka selubung papan nama tujuh distrik baru yang dimekarkan di Waisai belum lama ini.

Dalam rangka itu, kata Wanma, beberapa langkah strategis dilakukan antara lain melakukan peningkatan status dusun menjadi kampung, kampung dimekarkan, pembentukan kelurahan dan pemekaran distrik. Usai pemekaran distrik maka tugas selanjutnya adalah mempersiapkan pembentukan kabupaten dan provinsi. “Bila distrik sudah memungkin maka tugas kita selanjutnya adalah mempersiapkan pemekaran kabupaten dan bila berkenan serta atas izin Tuhan maka kita akan membentuk provisni. Itu impian saya kedepan,” kisah Wanma.

“Pemekaran adalah jembatan emas untuk membangun dan menghantar masyarakat Raja Ampat pada keadaan yang lebih baik,” tambah Wanma.

Sampai dengan saat ini secara pemerintahan, Kabupaten Raja Ampat telah memiliki 24 distrik dan 106 kampung, empat kelurahan. Dari sisi data, maka ini sangat memungkinkan untuk membentuk beberapa kabupaten baru. Wanma mengakui penambahan kampung dan distrik dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Raja Ampat ke-7 pada tanggal 09 Mei 2010 yang lalu adalah pintu masuk untuk pembentukan provinsi Raja Ampat Raya.

“Kita siapkan semuanya pada periode pertama kepemimpinan saya dengan saudara Inda Arfan, bila Rakyat masih percaya kepada kami maka usaha kami kedepan tinggal melakukan pembentukan kabupaten dan provinsi. Jadi saya bukan saja memikirkan pemekaran kabupaten, justru saya memikir hal lebih jauh yakni bagaimana daerah ini menjadi provinsi sendiri,” ungkap Wanma.




Untuk itu, bertepatan dengan peringatan HUT ke-7 Kabupaten Raja Ampat beberapa waktu yang lalu, Drs. Marcus Wanma, M.Si membuka selubung papan nama untuk tujuh 7 Distrik baru di wilayah pemerintahan yang dipimpinnya.

Adapu tujuh distrik yang dimekarkan tersebut antara lain Distrik Teluk Mayalibit, dimekarkan menjadi Distrik Teluk Mayalibit dan Distrik Tiplol Mayalibit. Distrik Salawati Utara, dimekarkan menjadi Distrik Salawati Utara dan Distrik Salawati Tengah. Distrik Selat Sagawin, berubah nama menjadi Distrik Batanta Utara & dimekarkan menjadi Distrik Batanta Utara, Distrik Batanta Selatan dan Distrik Salawati Barat. Distrik Waigeo Utara dimekarkan menjadi Distrik Waigeo Utara dan Distrik Supnin. Distrik Waigeo Selatan dimekarkan menjadi Distrik Waigeo Selatan dan Distrik Waisai Kota. Distrik Kepulauan Ayau dimekarkan menjadi Distrik Kepulauan Ayau & Distrik Kepulauan Ayau Utara.

Rabu, 24 Februari 2010

sambutan bupati Raja Ampat Pada Penutupan Musrenbang 2010

SAMBUTAN BUPATI RAJA AMPAT
PADA PENUTUPAN MUSRENBAG 2010
Waiai, 24 PEBRUARI 2010

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULAHI WABARAKATUH
SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEKALIAN
DAN SELAMAT PAGI

YANG TERHORMAT:
• …………………………………………
• SDR. WAKIL BUPATI
• KETUA DAN ANGGOTA DPRD RAJA AMPAT
• SEKDA KABUPATEN RAJA AMPAT
• ASISTEN I, ASISTEN II, PIMPINAN SKPD DI LINGKUNGAN PEMDA RAJA AMPAT
• PARA KEPALA DISTRIK
• PESERTA MUSRENBANG DAN HADIRIN YANG SAYA HORMATI
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maka Kuasa karena atas kasih setia-Nya, kita dapat bertemu di tempat ini dalam rangka Penutupan Kegiatan Musrenbang Tahun 2010.

Saya percaya banyak hal telah dibicarakan dan disepakati dalam forum ini, yang nantinya dituangkan dalam Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2011 serta mempertajam program prioritas yang akan kita laksanakan di tahun 2010.


Hadirin dan peserta Musrenbang yang saya hormati,

Perencanaan pembangunan yang efisien dan efektif menjadi tolak ukur Akuntabilitas, Profesionalisme dan Bobot pelayan public dewasa ini. Sebab, perencanaan pembangunan yang tidak efesien dan efektif akan menimbulkan pencitraan yang “negative” terhadap kualitas pelayanan aparatur pemerintah. Disinilah, hakekat dan arti penting dari Musrembang. Musrembang bukan saja sebagai agenda rutin tahunan untuk mengkalkulasi besar-kecilnya anggaran.

Perlu saya tekankan, besar-kecilnya anggaran bukan tolak ukur suksesnya perencanaan. Tetapi yang lebih penting adalah seberapa besar efek, nilai dan manfaat dari perencanaan tersebut bagi masyarakat. Di sanalah, cerminan kualitas dan integritas diri kita diukur.

Tiga hari kita berkumpul disini. Kita menuangkan ide dan gagasan bahkan silang pendapat pasti terjadi. Proses ini tentunya melelahkan. Tapi itu semua merupakan upaya dan komitmen kita guna menciptakan kesamaan pandangan dan harapan dari seluruh pelaku pembangunan dalam memadukan strategi, kebijakan, program dan kegiatan prioritas untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Secara nasional Tema Rancanangan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun ini adalah PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN DAYA SAING NASIONAL MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN PEMERINTAH. Tema ini dijabarkan dalam beberapa program prioritas, seperti: Percepatan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Miskin, Penataan Kelembagaan dan Pelaksanaan Sistem Perlindungan Sosial; Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia; Pemantapan Reformasi Birokrasi dan Hukum, serta Pemantapan Demokrasi dan Penguatan Perekonomian Domestik yang Berdaya saing Didukung oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur dan Energi; Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

Bila kita cermati secara saksama, maka tema RKP tersebut tak jauh dari program prioritas yang kita laksanakan di Kabupaten ini, seperti pembangunan sarana dan prasanana dasar, memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, meningkatkan mutu dan derajat kesehatan serta meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Karena itu sebagaimana pada pembukaan kegiatan ini, saya berharap kiranya semua kesepakatan yang kita buat dalam Forum Musrenbang ini betul-betul merupakan program prioritas yang menjawabi kebutuhan masyarakat Raja Ampat.

Ketika kabupaten ini hendak mengayun langkahnya menuju usia yang ketujuh, sekali lagi saya harapkan agar program-program prioritas pembangunan yang kita jalankan dimasa yang akan datang betul pro kerakyatan, dengan memfokuskan diri pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat serta memperluas akses pendidikan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

……………………………………………..



Peserta Musrembang yang berbahagia,

Mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan penghargaan atas partisipasi dan kontribusi yang telah diberikan oleh seluruh peserta yang telah mengikuti seluruh persidangan kelompok dengan seksama dan konsisten, terutama dalam memberikan masukan yang konstruktif bagi SKPD sebagai bahan penajaman rencana kerja untuk mewujudkan pencapaian sasaran prioritas RKPD tahun 2011. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada jajaran Bappeda Raja Ampat selaku Panitia Penyelenggara yang telah bekerja keras menyukseskan Musrenbag Tahun 2010 ini.

Akhirnya dengan memanjatkan Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kegiatan MUSRENBANG TAHUN 2010 KABUPATEN RAJA AMPAT, Rabu, 24 Pebruari 2010, secara resmi saya nyatakan ditutup.



BUPATI RAJA AMPAT


DRS. MARCUS WANMA, M.SI

Kamis, 14 Januari 2010

Otonomi Daerah Bukan Untuk Menghamburkan uang

Drs. Marcus Wanma, M.Si:

Otda Bukan Untuk Menghamburkan Uang

OTONOMI daerah yang efektif berjalan mulai tahun 2000-dengan acuan UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999-sudah sepuluh tahun dijalani. Semua daerah sibuk menata diri dan mencoba untuk "mandiri". Akan tetapi, tidak semua kabupaten/kota di Indonesia sukses menjalaninya. Dari ratusan kabupaten/kota, hanya dalam hitungan jari sebelah tangan yang bisa dikategorikan berhasil atau berprestasi.
Kabupaten Raja Ampat sebagai kabupaten yang dimekarkan pada tahun 2003, telah enam tahun menjalankan otonom daerah. Otonomi daerah sebagai pemberian kewenangan kepada daerah mengurus rumah tangganya sendiri menjadi moment penting bagi pemerintah Raja Ampat membawa rakyat yang tersebar di 610 pulau tersebut pada keadaan yang lebih baik. Ini menjadi tantangan tatkala sebagian daerah gagal menjalankan otonomi daerah.
“Banyak orang mengatakan otonomi daerah itu untuk menghambur-hamburkan uang serta membagi jabatan. Tapi bagi kami tidak. Otonomi daerah bukan untuk menghambur-hamburkan uang melainkan jembatan emas agar masyarakat bisa sejahtera. Jadi otonomi daerah itu tergantung pada siapa yang melaksanakannya,” ujar Bupati Kabupaten Raja Ampat, Drs. Marcus Wanma, M.Si.
Pada awal menjalani otonomi daerah dengan APBD yang minim kurang lebih Rp. 2 M, pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang dipimpin Drs. Marcus Wanma, M.Si harus bekerja keras membangun fondasi pemerintahan, infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan kondisi ekonomi masyarakat Raja Ampat. “Kabupaten ini dibangun dari “0” dan tolak ukurnya adalah Waisai. Ketika UU pemekaran Raja Ampat menetapkan Waisai sebagai ibukota kabupaten, Waisai ini hutan belukar dan terisolir,” tambah Marcus Wanma yang didampingi Wakil Bupati Drs. Inda Arfan.
“Untuk itu, kita bangun infrastruktur dasar, air bersih serta mendorong sektor lainnya seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga dengan adanya otonomi daerah membawa pencerahan baru bagi masyarakat Raja Ampat yang sebelumnya hidup dalam kukungan kegelapan dan terisolir,” tambah Bupati.

Bangun Sektor Kunci
Menyadari kekurangan di berbagai sektor, maka empat sektor kunci yang berhubungan dengan pembangunan manusia menjadi prioritas pemda Raja Ampat. Bagi, Marcus Wanma, otonomi daerah adalah jembatan guna memperpendek rentang kendali pelayanan kepada masyarakat, sehingga masyarakat Raja Ampat bisa sejahtera.
Langkah-langkah yang dibangun adalah, pertama adalah pembangunan sektor ekonomi. Sesuai dengan kondisi wilayah yang 80 % adalah laut dan sisanya daratan, maka pemeritah dan masyarakat sepakat menetapkan visi Kabupaten Raja Ampat adalah terwujudnya Kabupaten Raja Ampat sebagai kabupaten bahari yang ditunjang sektor perikanan dan pariwisata menuju masyarakat madani dalam bingkai NKRI. Hal ini dilatar belakangi pemikiran bahwa luas wilayah Raja Ampat didominasi oleh lautan dan pulau-pulau kecil dengan keindahan alamnya maka sektor perikanan dan pariwisata dipacu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kedua, sektor pendidikan dan kesehatan. Kedua sektor ini diperhatikan. Seluruh kampung dibangun gedung sekolah dasar, tiap distrik di bangun SLTP dan SMA. Tujuannya untuk menyiapkan dan meningkatan mutu sumber daya manusia kabupaten Raja Ampat. juga diberikan bantuan beasiswa bagi anak Raja Ampat dibidang Akademi Perawat, Kebidanan dan ilmu gizi serta mengirim anak Raja Ampat untuk menekuni bidang kedokteran, membangun asrama, sehingga diharapkan 10-15 tahun mendatang, kabupaten Raja Ampat tak kekurangan SDM dan mutu pelayanan kesehatan meningkatkan dari tahun ke tahun di kampung, distrik sampai tingkatan kabupaten.
Soal pelaksanaan otda di Kabupaten Raja Ampat, Drs. Hj.Abbas Umlati, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Raja Ampat periode 2004-2009, bangga dengan capaian pemda Raja Ampat selama enam tahun berotonomi.
“Legislatif sangat merespon terhadap apa yang dilakukan pemerintah Raja Ampat selama ini. DPRD sangat mendukung pembangunan di berbagai sektor pembangunan selama ini. Di Bidang Infrastruktur, pembangunan perumahan rakyat merupakan langkah yang sangat positif dilakukan pemda Raja Ampat. Ini kenyataan dan penyebarannya merata di 17 distrikdan 96 kampung di Raja Ampat,” ujar Abbas yang kembali menjadi anggota DPRD 2009-2014.
Bahkan Abbas melihat pembangunan yang dilakukan eksekutif berasaskan keadilan dan pemerataan. Hasilnyapun, kata Abbas, pembangunan berjalan lancar dan mengakomodir semua kepentingan di Raja Ampat. Abbas menilai pembangunan yang berasaskan keadilan tersebut bukan saja dalam program pembangunan fisik dari kampung-kampung, bahkan sampai pada penempatan aparatur dalam birokrasi. “Tidak ada kesenjangan dalam pembangunan di Kabupaten Raja Ampat. Kami melihat ada upaya pemerataan untuk suku-suku atau masyarakat di Raja Ampat yang berada atau mendiami empat pulau besar, Bantanta, Salawati, Waigei dan Misool. Bahkan di birokrasi pun diisi oleh putra-putra terbaik masyarakat Raja Ampat,” ujar Abbas.
Di sektor pendidikan, kata Abbas, pemda Raja Ampat betul-betul memberikan beasiswa kepada anak-anak Raja Ampat yang mendiami empat pulau besar di Raja Ampat. “Program beasiswa pun demikian, rekrutmen untuk kelas khusus, baik program beasiswa bidang kesehatan maupun penerbangan, kita rekrut dari empat pulau besar,” tandasnya.
Iklim investasi pun sangat terbuka bagi para swasta. Selama ini diberikan kesempatan bagi bagi kegiataan investari guna menunjang peningkatan pendapatan asli daerah. Sebab selain sektor perikanan dan kelautan, Raja Ampat juga memiliki potensi lain yang perlu dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. Umpamanya untuk pengembangan sektor pertanian dan perkebunan,pemda Raja Ampat membangun sarana irigasi di daerah Waibu, Kalobo dan Waijan.
Untuk meningkatkan pelayanan publik pemda Raja Ampat memberikan Tunjangn Kinerja Daerah bagi para pegawai, tujuannya untuk memotivasi pegawai untuk memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. “Sedangkan untuk masyarakat, kita memberikan bantuan modal melalui usaha koperasi dan perdagangan,” ujar Marcus Wanma.
Sementara itu, Kepala Distrik Salawari Utara Drs. Rukunuddin Arfan mengakuisSejak tahun 2007, secara rutin APBD Raja Ampat dialokasikan bagi pemberdayaan kampung untuk pembangunan empat sektor seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dimana thun 2007, pemda Raja Ampat mengalokasikan dana APBD sebesar Rp. 100/kampung untuk pemberdayaan masyakat kampung, selain mendapat dana dari APBD Kabupaten, masyarakat juga mendapat dana otonomi khusus provinsi Papua sebesar Rp. 100 juta/kampung. Pada tahun 2008, alokasi APBD-nya meningkat menjadi Rp. 150 juta/kampung, maka praktisnya dana untuk pemberdayaan masyarakat tiap kampung bila ditambah dengan dana otonomi khusus sebesar Rp. 250 juta/kampung. Dana ini diserahkan langsung ke masyarakat untuk peningkatan kesejahtaraan, membantu pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta membangun fasilitas umum di kampung-kampung seperti perumahan layak huni, mck, semenisasi jalan dan pembangunan sarana sosial dan ibadah.
Dibidang pemberdayaan ekonomi masyarakat, dana ini digunakan untuk membeli ketinting untuk mencari ikan. Dalam pengelolaan dana ini, masyarakat sendiri yang merencanakan, melaksanakan dan mempertanggungjawabkannya.
Marcus Wanma berharap masyarakat untuk bergandengan tangan membangun kabupaten Raja Ampat dalam seluruh sektor kehidupannya, baik soal pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur serta sektor pemberdayaaan ekonomi masyarakat.(petrus rabu)